Selasa, 26 Oktober 2010

Pengertian Pesan

Komunikasi dalam kehidupan manusia terasa sangat penting, karena dengan komunikasi dapat menjembatani segala bentuk ide yang akan disampaikan seseorang. Dalam setiap melakukan komunikasi unsur penting diantaranya adalah pesan, karena pesan disampaikan melalui media yang tepat, bahasa yang di mengerti, kata-kata yang sederhana dan sesuai dengan maksud, serta tujuan pesan itu akan disampaikan dan mudah dicerna oleh komunikan.


Adapun pesan itu menurut Onong Effendy, menyatakan bahwa pesan adalah: “suatu komponen dalam proses komunikasi berupa paduan dari pikiran dan perasaan seseorang dengan menggunakan lambang, bahasa/lambang-lambang lainnya disampaikan kepada orang lain”. (Effendy, 1989:224)


Sedangkan Abdul Hanafi menjelaskan bahwa pesan itu adalah “produk fiktif yang nyata yang di hasilkan oleh sumber–encoder”. (Siahaan, 1991:62). Kalau berbicara maka “pembicara” itulah pesan, ketika menulis surat maka “tulisan surat” itulah yang dinamakan pesan.


Pesan dapat dimengerti dalam tiga unsur yaitu kode pesan, isi pesan dan wujud pesan.

1. Kode pesan adalah sederetan simbol yang disusun sedemikian rupa sehingga bermakna bagi orang lain. Contoh bahasa Indonesia adalah kode yang mencakup unsur bunyi, suara, huruf dan kata yang disusun sedemikian rupa sehingga mempunyai arti.

2. Isi pesan adalah bahan untuk atau materi yang dipilih yang ditentukan oleh komunikator untuk mengomunikasikan maksudnya.

3. Wujud pesan adalah sesuatu yang membungkus inti pesan itu sendiri, komunikator memberi wujud nyata agar komunikan tertarik akan isi pesan didalamnya. (Siahaan,1991:62).

Selain hal tersebut di atas, pesan juga dapat dilihat dari segi bentuknya. Menurut A.W. Widjaja dan M. Arisyk Wahab terdapat tiga bentuk pesan yaitu:

A. Informatif

Yaitu untuk memberikan keterangan fakta dan data kemudian komunikan mengambil kesimpulan dan keputusan sendiri, dalam situasi tertentu pesan informatif tentu lebih berhasil dibandingkan persuasif.

B. Persuasif

Yaitu berisikan bujukan yakni membangkitkan pengertian dan kesadaran manusia bahwa apa yang kita sampaikan akan memberikan sikap berubah. Tetapi berubahnya atas kehendak sendiri. Jadi perubahan seperti ini bukan terasa dipaksakan akan tetapi diterima dengan keterbukaan dari penerima.

C. Koersif

Menyampaikan pesan yang bersifat memaksa dengan menggunakan sanksi-sanksi bentuk yang terkenal dari penyampaian secara inti adalah agitasi dengan penekanan yang menumbuhkan tekanan batin dan ketakutan dikalangan publik. Koersif berbentuk perintah-perintah, instruksi untuk penyampaian suatu target.

(Widjaja & Wahab,1987:61)

Terhadap suatu pesan yang dikomunikasikan ingin mempunyai kemampuan untuk meramalkan efek yang timbul pada komunikan. Maka tidaklah mengherankan apabila dalam setiap melaksanakan penyampaian pesan tidak terlepas dari keinginan untuk menjadikan pesan itu diterima oleh komunikan. Tetapi untuk menjadikan pesan itu dapat di terima maka harus memperhatikan berbagai macam kondisi cara penyampaian dan memenuhi syarat dari suatu pesan. Wilbur Schramm menampilkan apa yang disebut “The Condition Of Succes In Communication” yakni kondisi yang harus dipenuhi jika menginginkan agar suatu pesan membangkitkan tanggapan yang dikehendaki. Kondisi tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

a) Pesan harus dirancang sedemikian rupa, sehingga dapat menarik perhatian komunikan.

b) Pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga sama-sama mengerti.

c) Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi dan menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut.

d) Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan tadi yang layak bagi situasi kelompok dimana komunikan berada pada saat ia digerakan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki. (Effendy, 1993:41)

Dalam menciptakan pengertian yang baik dan tepat antara komunikator dan komunikan, pesan harus disampaikan sebaik mungkin. Sedikitnya ada sembilan pesan menurut S.M Siahaan dalam bukunya “Komunikasi Pemahaman dan Penerapan” yaitu:

1. Pesan harus cukup jelas (Clear), bahasa yang mudah dipahami, tidak berbelit-belit, tanpa denotasi yang menyimpang dan tuntas.

2. Pesan itu mengandung kebenaran yang mudah diuji (Corect), berdasarkan fakta, tidak mengada-ada dan tidak diragukan.

3. Pesan itu diringkas (Concise) dan padat serta disusun dengan kalimat pendek (to the point ) tanpa mengurangi arti yang sesungguhnya.

4. Pesan itu mencakup keseluruhan (Comprehensif), ruang lingkup pesan mencakup bagian-bagian yang penting dan yang patut diketahui komunikan.

5. Pesan itu nyata (concret) dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan data dan fakta yang ada, tidak sekedar isu/kabar angin.

6. Pesan itu lengkap (complete) dan disusun secara sistematis.

a) Pesan itu menarik dan meyakinkan (Convincing) menarik karena bertautan dengan dirinya sendiri, menarik dan meyakinkan karena logis.

b) Pesan itu disampaikan dengan sopan (Courtesy) harus diperhitungkan kadar kebiasaan, kepribadian, pola hidup dan nilai-nilai komunikasi, nilai etis sangat menentukan sekali bagaimana orang bisa terbuka.

c) Nilai pesan itu sangat mantap (Concisten) artinya tidak mengandung pertentangan antara bagian pesan yang lain, konsistensi ini sangat penting untuk meyakinkan komunikan akan kebenaran pesan yang disampaikan. (Siahaan, 1991:63)

Sedangkan menurut A.W. Widjaja dalam buku “Ilmu Komunikasi Pengantar Studi” menyatakan pesan yang disamapaikan harus tepat, ibarat membidik dan menembak maka peluru yang keluarlah harus memenuhi syarat sebagai berikut :

Umum

1. Berisikan hal-hal yang umum dipahami oleh sasaran, bukan soal-soal yang dipahami oleh seseorang atau kelompok tertentu.

2. Jelas dan gamlang

3. Pesan itu harus jelas tidak samar-samar jika menggunakan perumpamaan hendaknya yang senyata mungkin.

4. Bahasa yang jelas

5. Sejauh mungkin hindari menggunakan istilah-istilah yang tidak di pahami oleh audience atau khalayak gunakanlah bahasa yang sesuai dengan komunikan. Hati-hati dalam menggunakan bahasa istilah daerah karena akan memberikan penafsiran yang berbeda diantara satu daerah dengan daerah yang lainnya.

6. Positif

7. Setiap pesan agar diusahakan atau diutamakan dalam bentuk positif dengan mengemukakan pesan itu diupayakan agar lebih mendapatkan simpati.

8. Seimbang

9. Pesan yang disampaikan hendaknya wajar sebab jika tidak wajar akan cenderung ditolak, sebaliknya pesan itu harus seimbang, selaras dan serasi.

10. Kondisi

11.Penyesuaian dengan keinginan komunikan dan orang-orang yang menjadi sasaran komunikasi selalu mempunyai keinginan tertentu oleh sebab itu perlu mengetahui keadaan, waktu dan tempat dalam penyampaian. (Widjaja, 1987 : 32)

Dengan demikian berdasarkan pernyataan di atas dapat di katakan bahwa pesan yang disiarkan media massa bersifat umum, karena memang demi kepentingan umum, maka penataan pesannya bergantung pada media yang bersangkutan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More